-

Jumat, 25 Desember 2009

ilmu ma`ani hadis

ILMU MA'ANI HADIS

A. Pendahuluan
Hadis atau sunnah bagi umat Islam menempati urutan kedua sesudah al-Qur'an karena, di samping sebagai sumber ajaran Islam yang secara langsung terkait dengan keharusan mentaati Rasulullah SAW, juga karena fungsinya sebagai penjelas (bayan) bagi ungkapan-ungkapan al-Qur'an yang mujmal, muthlaq, 'amm dan sebagainya.
Dalam hadis dikenal dengan adanya sanad dan matan. Sanad yang mengawal matan hadis sekaligus berperan sebagai bukti kesejarahan tentang proses tranmisi hadis (silsilah keguruan) bagi kolektor hadis yang bersangkutan. Susunan kalimat pada matan hadis cenderung beragam, tak terkecuali hadis qauli yang diangkat dari sabda/pernyataan. Hal ini terkondisi antara lain karena kelonggaran menyadur ungkapan-ungkapan hadis (baca: al-riwayah bi al-makna) sejak generasi sahabat.
Untuk memahami keberagaman matan hadis diperlukan suatu ilmu yang disebut ilmu ma'ani hadis, dimana akan diuraikan dalam makalah berikut ini.
B. Pembahasan
1. Pengertian
Secara bahasa Ilmu Ma'ani Hadis terdiri dari tiga kata yaitu: ilmu (علم), ma'ani (معانى)dan hadis (حديث). Ilmu berarti pengetahuan, Ma'ani adalah jamak dari makna yang berarti arti. Jadi secara bahasa Ilmu Ma'ani Hadis ialah pengetahuan tentang arti hadis.
Sedangkan secara istilah Ilmu Ma'ani Hadis adalah ilmu yang berusaha memahami matan hadis secara tepat dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang berkaitan dengannya atau indikasi yang melingkupinya.
Jika diteliti lebih lanjut Ilmu Ma'ani Hadis tidak termaktub dalam kitab-kitab ilmu hadis. Karena sebenarnya Ilmu Ma'ani Hadis adalah bagian dari Ilmu Naqd al-Mutun (Ilmu Kritik Matan), sehingga ilmu ini adalah sebuah bentuk terobosan baru dalam rangka memahami hadis. Seandainya ada pertanyaan siapa tokoh yang pertama kali merumuskan ilmu ini, maka jawabnya adalah tidak ada. Karena metode atau langkah-langkah yang ada dalam ilmu ini sudah dipraktekkan oleh ulama-ulama terdahulu melalui syarah-syarah hadis.
2. Ruang Lingkup dan Objek Kajian
Karena Ilmu Ma'ani Hadis adalah sebagai alat untuk memahami makna yang terkandung dalam hadis, sedangkan makna itu berhubungan dengan matan (teks) hadis maka objek kajian dari Ilmu Ma'ani Hadis adalah matan dari suatu hadis. Sedangkan ruang lingkupnya ialah memahami matan hadis dari berbagai pendekatan dan metode pensyarahan. Di antara pendekatan-pendekatan tersebut adalah:
a. Pendekatan bahasa
Pendekatan bahasa dalam memahami hadis dilakukan apabila dalan sebuah matan hadis terdapat aspek-aspek keindahan bahasa (balaghah) yang memungkinkan mengandung pengertian majazi (metaforis) sehingga berbeda dengan pengertian haqiqi.
b. Pendekatan Historis
Yaitu memahami hadis dengan memperhatikan dan mengkaji situasi atau peristiwa sejarah yang terkait dengan latarbelakang munculnya hadis.
c. Pendekatan Sosiologis
Yaitu memahami hadis dengan memperhatikan dan mengkaji keterkaitannya dengan kondisi dan situasi masyarakat pada saat munculnya hadis.
d. Pendekatan Sosio-historis
yaitu memahami hadis dengan melihat sejarah sosial serta setting sosial pada saat dan menjelang (bahkan sesudah) hadis tersebut di sabdakan. Atau dengan kata lain memahami hadis dengan melihat pola hidup sosial sebelum dan saat hadis tersebut disabdakan, atau bahkan sesudahnya.
e. Pendekatan antropologis
Yaitu memahami hadis dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat, tradisi dan budaya yang berkembang dalam masyarakat pada saat hadis tersebut disabdakan.
f. Pendekatan Psikologis
Yaitu memahami hadis dengan memperhatikan kondisi psikologis Nabi SAW dan masyarakat yang dihadapi nabi ketika hadis tersebut disabdakan.
g. Pendekatan Hermeneutik
Yaitu memahami dan menafsirkan teks hadis, serta kemungkinan kontekstualisasi dalam konteks kekinian. Sehingga dalam hal ini ada tiga poin yang perlu diperhatikan, yakni: teks itu sendiri, pembuat teks (Nabi) dan audiens.
Sedangkan metode-metode yang digunakan untuk mensyarah hadis adalah:
a. metode tahlili (analitis)
b. metode ijmali (global)
c. metode maudhu'i (tematik), dan
d. metode muqarin (komparatif).
3. Urgensi Pengkajian
Di lingkungan umat Islam kadang kala muncul pendapat yang eksklusif yang merasa bahwa pemahaman mereka yang paling benar. Munculnya realitas sosial yang melanda sebagian umat Islam bahwa mereka merasa paling benar tersebut timbul akibat adanya perbedaan cara pandang atau pendekatan dalam memahami atau menjelaskan maksud kandungan hadis dengan pemahaman yang dijalani oleh kelompok lainnya.
Jika wacana pendekatan dalam memahami hadis bisa disadari secara jernih, kemungkinan memandang pemahaman dirinya paling benar akan bisa terhindarkan, karena masing-masing menyadari perbedaan titik tolak menyebabkan hasil pemahaman yang juga berbeda.
Yang perlu digarisbawahi ketika kita berhadapan dengan teks hadis adalah minimal dua hal. Pertama bahasa teks itu sendiri dan yang kedua konteks yang yang melingkupi teks tersebut. Baik sebelum, saat ataupun jauh setelah teks itu keluar, bahkan masa yang akan datang. Untuk itulah Ilmu Ma'ani Hadis sangat urgen kedudukannya dalam rangka memahami hadis agar diperoleh pemahaman yang benar.
4. Kaitan Antara Ilmu Ma'ani Hadis dengan Periwayatan bi al-lafdzi dan Periwayatan bi al-makna
Dalam sejarah perjalanan hadis diketahui bahwa sepeninggal Rasulullah SAW periwayatan hadis itu diperketat agar tidak terjadi periwayatan sesuatu yang bukan dari Nabi tetapi disandarkan kepada Nabi. Di samping itu periwayatan hadis harus dilakukan apa adanya, tidak ada penambahan atau pengurangan. Ini hanya bisa dilakukan apabila mereka (sahabat) hafal benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW. Atau yang kita kenal dengan periwayatan bi al-lafdzi.
Tetapi dalam kenyataan banyak dijumpai hadis-hadis yang maksudnya sama tetapi diungkapkan dengan redaksi yang berbeda atau yang kita kenal dengan periwayatan bi al-makna. Berbagai pendapat muncul tentang boleh atau tidaknya periwayatan bi al-makna itu. Atau yang menolak tetapi ada juga yang setuju tetapi dengan syarat-syarat tertentu.
Banyaknya redaksi hadis yang berbeda tetapi maksudnya sama inilah yang membuat ilmu ma'ani hadis menjadi terkait, bahkan sangat dibutuhkan, dengan pemahaman hadis-hadis yang diriwayatkan bi al-makna. Terutama pendekatan melalui bahasa. Karena penelitian dengan pendekatan ini selain dapat digunakan untuk meneliti makna hadis, juga dapat digunakan untuk meneliti nilai sebuah hadis apabila terdapat perbedaan lafadz dalam matan.
Ilmu ma'ani Hadis juga sangat membantu terhadap hadis yang diriwayatkan bi al-lafdzi. Ini karena meskipun lafadznya sesuai dengan apa yang disabdakan Nabi, sebagaimana telah disebutkan diatas, tetapi untuk memahami suatu teks hadis selain dibutuhkan pemahaman bahasa teks itu sendiri juga diperlukan pemahaman terhadap konteks yang melingkupinya. Sehingga dalam hal ini dibutuhkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan matan hadis, seperti Ilmu Gharib al-hadis, Ilmu Nasikh Mansukh, Asbab al-Wurud, Ilmu Tashif wa Tahrif, Ilmu Mukhtalif al-Hadis dan sebagainya yang kesemuanya masuk dalam cakupan Ilmu Ma'ani Hadis.
C. Penutup
Hadis sebagai salah satu sumber ajaran Islam bahkan menempati posisi kedua di bawah al-Qur'an untuk saat ini telah menghadapi tantangan yang luar biasa beratnya. Umat Islam sebagai generasi penerus dan bertanggungjawab atas eksistensi dan kontinuitas dituntut untuk senantiasa melakukan reformasi internal dalam memahami, menggunakan dan mengaplikasikan hadis dalam kehidupan saat ini. Dan Ilmu Ma'ani Hadis merupakan alat bantu dalam memahami hadis sehingga diharapkan maksud dari hadis tersebut tercapai.






DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Hasjim, Kritik Matan Hadis Versi Muhaddisin dan Fuqaha, Yogyakarta, Elbe, 2004.

Ali, Nizar, Memahami Hadis nabi (Metode dan Pendekatan ), Yogyakarta, YPI al-Rahmah, 2001.

Munawwir, Ahmad Warson, Al-Munawwir Kamus Arab Indonesia, Yogyakarta, Pustaka Progressif, 2002.

Suparta, Munzier, Ilmu Hadis, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2002.

Yusron, M., "Pohon Ilmu Hadis", artikel diakses pada 22 oktober 2008 dari http://www.darussholah.com/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=276

Zuhri, Muh., Hadis Nabi Telaah Historis dan Metodologis, Yogyakarta, PT Tiara Wacana, 2003.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar